ini dia kisah perjuangan es teler 77 - Dari tidak lulus sekolah hingga jadi raja waralaba
“Dari Putus Sekolah Menjadi Raja Waralaba: Kisah Sukyatno Nugroho – Es Teler 77”
Tidak semua orang sukses lahir sebagai anak pintar.
Tidak semua pengusaha hebat punya ijazah tinggi.
Inilah kisah seorang pria yang pernah dianggap bodoh, sering membolos sekolah, bahkan dua kali tidak naik kelas…
Namun kelak dikenal sebagai Presiden Direktur Es Teler 77.
Namanya Sukyatno Nugroho.
Lahir di Pekalongan, 3 Agustus 1948, Sukyatno bukanlah murid berprestasi. Ia hanya bertahan tiga bulan di bangku SMA sebelum akhirnya putus sekolah. Dengan ijazah SMP di tangan, banyak orang meragukan masa depannya.
Bahkan pamannya sendiri pernah menyebutnya bodoh.
Namun hidup tidak berhenti di ruang kelas.
Dikirim ke Jakarta, Sukyatno mulai belajar berdagang. Ia menjual kancing, sisir, hingga alat elektronik di kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok. Ia pernah dicurigai menjual barang curian. Ia pernah diremehkan. Ia pernah hampir menyerah.
Namun ia tidak berhenti mencoba.
Ia menjadi calo SIM.
Menjadi perantara jual beli tanah.
Menjadi pemborong bangunan.
Hingga suatu hari, musibah besar datang.
Sebuah rumah proyek yang hampir selesai dibangun ternyata berdiri di atas tanah sengketa. Ia nyaris dikeroyok massa. Ia bangkrut. Terlilit utang besar. Bahkan tak mampu membiayai sekolah anaknya.
Di titik itulah banyak orang akan menyerah.
Tapi tidak dengan Sukyatno.
Dengan modal hanya satu juta rupiah, ia mencoba peruntungan baru — berjualan es teler. Resepnya berasal dari sang ibu mertua, Murniati Widjaja, yang pernah memenangkan lomba di majalah nasional.
Tahun 1982, di pinggir pusat belanja Duta Merlin, Harmoni, Jakarta, lahirlah sebuah gerai kaki lima sederhana bernama Es Teler 77.
Angka 77 baginya adalah simbol keberuntungan.
Dari gerobak kaki lima yang sering kena razia, berpindah-pindah lokasi…
Sukyatno bermimpi lebih besar.
Tahun 1987, ia nekat mewaralabakan usahanya. Padahal ia hanya lulusan SMP. Ia bahkan mengaku tidak sepenuhnya paham sistem franchise.
Namun ia belajar. Ia membaca artikel berbahasa Inggris. Ia mengamati sistem waralaba seperti KFC dan McDonald's yang saat itu mulai berkembang di Indonesia.
Dengan keberanian dan keyakinan, ia membuka cabang di Solo dan Semarang.
Perlahan tapi pasti, gerainya berkembang hingga ratusan.
Masuk ke mal dan plaza.
Bahkan membuka gerai di kawasan elit Sudirman.
Citra Es Teler 77 naik kelas.
Ia tidak berhenti berinovasi.
Menu bertambah: mi tek-tek, ikan bakar, nasi goreng, sop buntut.
Pelayanan ditingkatkan.
Manajemen diperkuat melalui PT Top Food Indonesia.
Program kartu member diluncurkan untuk menjaga loyalitas pelanggan.
Dari minuman kaki lima…
Menjadi jaringan waralaba internasional.
Es Teler 77 hadir di Malaysia, Singapura, hingga Australia.
Sukyatno Nugroho — pria yang dulu dianggap bodoh — kini diundang sebagai pembicara bisnis franchise. Bahkan menerima gelar doktor honoris causa.
Ia membuktikan satu hal penting:
Kesuksesan bukan tentang seberapa tinggi pendidikan kita.
Tapi tentang seberapa kuat kita bangkit saat jatuh.
Sukyatno tutup usia pada 11 Desember 2007.
Namun warisannya tetap hidup.
Dari satu juta rupiah…
Menjadi kerajaan waralaba.
Dari anak yang tidak naik kelas…
Menjadi inspirasi bagi jutaan orang Indonesia.
Karena pada akhirnya,
Bukan siapa yang paling pintar yang menang…
Tetapi siapa yang paling pantang menyerah.



Komentar
Posting Komentar